Model klaster ini bergantung pada dua lapis SDM sekaligus: tim inti yang merancang dan mengendalikan sistem, dan jejaring petani-peternak mitra yang menjalankan operasional harian di lapangan.
Tim inti berfungsi sebagai integrator klaster — merancang tata letak kontur, mengelola infrastruktur bersama, dan menjaga mutu di seluruh rantai.
| Fungsi | Tanggung jawab utama | Fokus lapangan |
|---|---|---|
| Agronomis Lahan Kering | Merancang strata agroforestri kopi, pala, cengkeh, durian, aren, alpukat, kakao, nangka, dan kapulaga sesuai elevasi, kontur, naungan, serta kebutuhan konservasi tanah dan air. | 300–900 mdpl |
| Spesialis Peternakan Adaptif | Mengelola rotational grazing domba/sapi, kesehatan ternak, dan sinkronisasi jadwal dengan pabrik pakan. | Padang gembala berundak |
| Teknisi Agroteknologi & IoT | Mengoperasikan unit biochar, jaringan embung digital, dan katup solenoid bertenaga surya. | Titik elevasi tertinggi |
| Manajer Rantai Pasok Sirkular | Mengatur arus bahan antar pabrik pakan, pabrik kompos, dan pertukaran hara dengan klaster pesisir. | Hulu–hilir korporat |
| Koordinator Kemitraan Petani | Menjembatani skema land pooling, pelatihan, dan pembagian hasil dengan petani-peternak pemilik lahan. | Desa-desa di tiga wilayah cakupan |
Alih-alih mendatangkan tenaga kerja dari luar, model ini dirancang untuk membangun kapasitas petani dan peternak lokal yang lahannya masuk skema land pooling.
Setiap keluarga mitra dipetakan sesuai pengalaman — bertani, beternak, atau keduanya — sebelum ditempatkan pada peran di klaster.
Pendampingan langsung di lahan untuk teknik tanam mengikuti garis kontur, pemangkasan tanaman pagar, dan aplikasi biochar.
Petugas embung, operator biodigester, dan penggembala rotasi mendapat pelatihan berjenjang sesuai kompleksitas perannya.
Mitra dengan rekam jejak baik dapat naik peran menjadi koordinator kelompok tani/ternak, mengurangi ketergantungan pada tim inti dari luar.
Rekrutmen tim inti tetap dibuka, tetapi setiap posisi lapangan memprioritaskan tenaga dari desa-desa di wilayah cakupan.
Pembagian hasil bagi petugas lapangan dikaitkan dengan performa sirkular klaster, bukan hanya produksi satu komoditas.
Struktur peran dirancang bertingkat sehingga mitra dapat naik dari tenaga lapangan menjadi mandor, lalu koordinator wilayah.